Selasa, 12 April 2011

POKOK ZEN ( INTI BUDDHISM )

pikiran bukan murni/yang sejati (kemurnian),
tetapi pikiran dapat dijernihkan.

Ada sesuatu yang sejati. (Udanna VIII.3)
pikiran yang bergerak kusebut keruh,
dan pikiran yang bening (jernih) bebas dari (gerak) bentuk-bentuk pikiran
dan sifat pikiran adalah kesementaraan, bukan nyata hanya sebatas tataran pengetahuan (pikiran) saja/filosofis
tetapi kenyataan (keberadaan) kebenaran/yang sejati bukan didalam pikiran, berbeda dari pikiran, diluar pikiran dan pemikirannya (yang sifatnya kesementaraan).
seperti syair dari blogku - poemofpathofwisdom.blogspot.com ini,
bagaikan melihat dasar kolam di air keruh
meski air keruh, dasar tak terlihat
tapi kuyakini adanya dasar
menjernihkan air sangatlah susah
bagaimana kalau (mata) tak tertuju kearah kolam????

klo pikiran diperumpamakan sebagai air yang harus dijaga kejernihannya, itu yang mungkin cocok disebut dengan kata 'to realize'.

Tetapi ada tahapan lebih lanjut lagi yaitu setelah melalui pikiran yang jernih itu sehingga seseorang dapat (to realize) melihat/mencapai/mengenal (to attain) sifat (kenyataan keberadaan) kebenaran yang sejati itu. dan setelah itu mengejewantahkannya dalam segala pandangan yang melatar-belakangi segala prilaku kehidupan orang tersebut (balik lagi to realize).
Mengapa? karena ini berhubungan dengan konsep salah awam tentang pengakuan aku diri dan kemelekatan kepemilikannya dan pandangannya tentang kebendaan/bentuk/kewujudan menurut ukuran nama-rupa sebagai keberadaan yang sejati, yang bertolak belakang dengan kenyataan keberadaan kebenaran yang sejati (so there ada dua sisi, awam atau duniawi dengan yang sejati).

who do really attain nibanna?
tatarannya sama seperti persepsi pengajaran-pengajaran, diskusi-diskusi dan praktek-praktek meditasi umat, semua hanya dalam tataran kesementaraan (so (masih) bersifat kekhayalan), bukan yang sejati, sebelah luar.


Pengenalan akan yang Mutlak.
Tahap/dimensi 1 : Hati yang murni dan kasih (pintu gerbang keBuddhaan/keTuhanan)
Tahap/dimensi 2 : Masuk dalam kondisi yang Mutlak (Nibanna)
Tahap/dimensi 3 : Hidup didalam sifat yang Mutlak
Terakhir Tahap/dimensi 4 : Pada akhirnya pengenalan kepada yang Mutlak (pribadi).
Kita sudah sampai atau berada ditahap mana? seperti pertanyaan 'who do really attain nibanna?', jika tahap pertama saja belum/tidak.
so, apa yang kau bicarakan tentang kebenaran yang kau sebut kebijaksanaan?
apalagi menilai-nilai yang berhubungan dengan kualitas tahap/dimensi 4.

Zen adalah untuk melihat dasar kolam. itulah pintu gerbang keBuddhaan/ke Tuhanan.

GOD bless us
coeda. true believer. sobat DHAMMA. son of the LIVING TRUTH.

0 komentar:

Poskan Komentar