Senin, 09 November 2009

Segala sesuatu ( dharma ) bercorak sunyata

Mengapa guru Buddha (perlu) mengajarkan hal ini (pengajaran-pengajaran),
sedangkan pada sutra (prajnaparamita hridaya) tertulis antara lain …. :
'Duhai Sariputra, rupa (bentuk jasmani) adalah kekosongan (sunyata) dan sunyata itu rupa; sunyata tidak berbeda dari rupa, rupa juga tidak berbeda dari sunyata; rupa apapun juga, itulah sunyata; sunyata apapun juga, itulah rupa. Ini pun berlaku bagi vedana (perasaan), samjna (pencerapan), samskara (bentuk-bentuk mental), dan Vijnana (kesadaran).

Disinilah, duhai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak muncul, juga tak berakhir; tidak kotor. juga tidak murni bersih, tidak kurang, tidak lengkap/bertambah.

Maka itu, duhai Sariputra, dimana terdapat sunyata, di situ tiada rupa, tiada vedana, tiada samjna, tiada samskara, tiada vijnana; tiada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan bathin; tiada bentuk-bentuk suara-suara, bau-bauan, rasa-rasa, sentuhan-sentuhan, bentuk-bentuk pikiran; tiada unsur (dhatu) penglihatan dan selanjutnya, hingga kita tiba pada tiada unsur kesadaran (vijnana-dhatu); tiada kegelapan bathin (avidya), tiada akhir kegelapan bathin dan seterusnya, hingga kita sampai pada tiada hari tua dan kematian, tiada akhir hari tua dan kematian; tiada derita (dukha), tiada asal mula derita (dukkha-samudaya), tiada akhir derita (dukha-nirodha), tiada jalan (marga), tiada pengetahuan (jhana), tiada pencapaian dan tiada bukan pencapaian.
'

Masalahnya adalah :
pandangan terang, tetapi kita melihat dengan (melekat kepada) kacamata yang gelap (keakuan khayal atta diri yang anatta).

Sabtu, 07 November 2009

Prajnaparamita Hridaya Sutra

Sang Bodhisattva Avalokitesvara sedang bersamadhi, merenungkan Prajnaparamita yang dalam dan luhur. Beliau memandang dari atas ke bawah; tertampaklah, bahwa panca skandha (lima kelompok kehidupan) itu sebenarnya kosong.

Duhai Sariputra, rupa (bentuk jasmani) adalah kekosongan (sunyata) dan sunyata itu rupa; sunyata tidak berbeda dari rupa, rupa juga tidak berbeda dari sunyata; rupa apapun juga, itulah sunyata; sunyata apapun juga, itulah rupa. Ini pun berlaku bagi vedana (perasaan), samjna (pencerapan), samskara (bentuk-bentuk mental), dan Vijnana (kesadaran).

Disinilah, duhai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak lahir/tak dimunculkan, tak hancur, tak tercemar, tak murni, juga tidak bertambah ataupun berkurang.

Maka itu, duhai Sariputra, dimana terdapat sunyata, di situ tiada rupa, tiada vedana, tiada samjna, tiada samskara, tiada vijnana; tiada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan bathin; tiada bentuk-bentuk suara-suara, bau-bauan, rasa-rasa, sentuhan-sentuhan, bentuk-bentuk pikiran; tiada unsur (dhatu) penglihatan dan selanjutnya, hingga kita tiba pada tiada unsur kesadaran (vijnana-dhatu); tiada kegelapan bathin (avidya), tiada akhir kegelapan bathin dan seterusnya, hingga kita sampai pada tiada hari tua dan kematian, tiada akhir hari tua dan kematian; tiada derita (dukha), tiada asal mula derita (dukkha-samudaya), tiada akhir derita (dukha-nirodha), tiada jalan (marga), tiada pengetahuan (jhana), tiada pencapaian dan tiada bukan pencapaian.

Maka, duhai Sariputra, berkat kebebasan dari keuntungan pribadi apapun juga, seorang Bodhisattva yakin akan prajnaparamita (kesempurnaan kebijaksanaan luhur). Ia bebas dari segala rintangan. karena bebas dari segala rintangan, Ia bebas dari perasaan takut dan dengan mengatasi sumber-sumber kegelisahan akhirnya Ia mencapai Nirvana.

Para Buddha dari tiga jaman (lampau, mendatang, dan sekarang) mencapai Anuttara Samyak-Sambodhi karena mereka telah yakin akan Prajnaparamita. Maka itu orang harus mengetahui bahwa Prajnaparamita adalah Maha Mantra, Mantra yang Maha Gemilang, Mantra yang Maha Agung, Mantra yang tak ada bandinagnnya! Dan dapat melenyapkan segala macam penderitaan. Sungguh demikian, tiada kekliruan sedikitpun. Oleh karena itu Beliau senang menerangkan Mantra Prajnaparamita serta berkata :

"Gate gate paragate para-samgate Bodhi svaha!"
( Lewat, lewat, lewat ke Pantai Seberang, tiba di Pantai Seberang, Kesadaran Agung, semoga demikian!)


--------------

segala sesuatu itu sifatnya (dasarnya) sesungguhnya adalah sunya.
sunya bukan diistilahkan kekosongan kosong,
melainkan sempurna seperti penjelasan diatas (bercorak sunyata; tak lahir atau tak dimunculkan, tak hancur, tak tercemar, tak murni (istilah pembedaan yang muncul dari pandangan dualisme), juga tidak bertambah ataupun berkurang),
pencapaian pencerahan disebut (kondisi/keadaan) Nibanna,
dasarnya adalah ada pada penjelasan Udanna VIII.3, ada sesuatu keMutlakan/yang Mutlak.
tetapi umat, pengikut (baik murid maupun mereka pengajar) ajaran guru Buddha melekat, bertumpu pada (kekuatan) (yang) khayal, bagaimana bisa mengerti dan menyelami?
sehingga dengan kebanggaan diri yang semu, kemutlakan (yang Mutlak) diukur dipersandingkan dengan ukuran diri yang khayal, fana atau (kewujudan) duniawi.

Yang anicca anatta itu (adalah) kekhayalan, bukan Buddha

Kutipan pembicaraan dalam diskusi forum :

- Mengapa Ada Begitu Banyak “Penderitaan” dibahas Dalam Ajaran Buddha?


Pemakaian kata “penderitaan” dalam ajaran Buddha dapat menimbulkan salah pengertian. Ketika kita mendengar Buddha berkata, “Hidup adalah penderitaan,” kita jadi bertanya-tanya terhadap apa yang Ia katakan, karena sebagian dari kita tidak mengalami penderitaan yang terlalu berat dalam kehidupan.

Kata yang sesungguhnya dipakai Buddha adalah “Dukkha” yang berarti ‘segala sesuatu tidak benar-benar pas dalam hidup kita—banyak terdapat kondisi yang tidak memuaskan dalam keberadaan kita; selalu saja ada sesuatu yang tampaknya tidak pas.’ Jadi, “penderitaan” yang dipakai dalam ajaran Buddha merujuk pada segala jenis ketidakpuasan, baik yang besar maupun yang kecil.

Apakah Kebahagiaan Itu?

Dalam hidup ini, sedikit-banyak kita mengalami ketidakpuasan. Buddha tidak pernah menyangkal bahwa ada kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Namun, masalah yang terus mengusik akibat ketidakpuasan selalu ada, sementara “kebahagiaan” selalu cepat berlalu. Inilah satu-satunya masalah dalam hidup kita, tetapi ini adalah masalah TERBESAR karena hal ini mencakup semua masalah yang kita hadapi. Buddha hanya mengarahkan perhatian kita pada kenyataan bahwa penderitaan merupakan bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan, bahwa itu adalah masalah yang dialami oleh kita semua, yang ingin kita hindari, yang itu dapat diatasi dengan pencapaian Nirwana (Kebahagiaan Sejati).

Apakah Empat Kebenaran Mulia Itu Pesimistik?

Sebagian orang mengatakan bahwa ajaran Buddha adalah ajaran yang pesimistik karena selalu membahas tentang penderitaan. Ini jelas tidak benar. Di sisi lain, ajaran Buddha juga bukan ajaran optimistik yang membuta. Sesungguhnya, ajaran Buddha adalah ajaran yang realistik dan penuh harapan karena ajaran ini mengajarkan bahwa Kebahagiaan Sejati dapat dicapai melalui upaya pribadi, seseorang menjadi tuan atas kehidupannya sendiri.

Masalah dan kesulitan selalu ada, entah kita memikirkannya atau tidak. Akan tetapi, pemecahan hanya memungkinkan dengan pengenalan masalah secara apa adanya. Buddha menyatakan Kebenaran yang tak tersangkalkan bahwa hidup ini penuh ketidakpuasan, oleh karenanya Ia mengajarkan kita jalan keluar dari ketidakpuasan menuju Kebahagiaan Sejati!

Seberapa Penting Empat Kebenaran Mulia?

Merealisasikan Empat Kebenaran Mulia adalah tugas utama kehidupan pengikut Buddha karena hal ini membawa pada Kebahagiaan Sejati. Kita akan mendapati bahwa susunan Empat Kebenaran Mulia adalah rumus pemecahan masalah yang sangat sederhana, masuk akal, ilmiah, dan sistematik. Karena kebenaran-kebenaran ini memecahkan masalah pokok penderitaan, oleh karenanya Empat Kebenaran Mulia sangatlah penting.

Bagaimana Empat Kebenaran Mulia Bekerja?

Kebenaran pertama menyatakan adanya masalah penderitaan. Kebenaran kedua menyatakan penyebab masalah. Kebenaran ketiga menyatakan keadaan ideal tanpa masalah, dan Kebenaran keempat menyatakan bagaimana keadaan ideal itu dapat dicapai.

Apa Asal Mula Empat Kebenaran Mulia?

Empat Kebenaran Mulia diajarkan pertama kali oleh Buddha pada pembabaran Dharma yang pertama di Taman Rusa di Isipatana (bagian India kuno, di dekat Benares), setelah Ia mencapai Pencerahan, lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Pembabaran itu dikenal dengan Dhammacakkappavattana Sutta (Ceramah Pemutaran Roda Dharma). Seluruh ajaran yang disampaikan Buddha sesudahnya merupakan penjelasan mendalam dari Empat Kebenaran Mulia, ataupun ajaran yang mengarahkan ke Empat Kebenaran Mulia. Buddha menggunakan berbagai cara dan metode yang piawai dalam mengajarkan Empat Kebenaran Mulia kepada berbagai jenis orang.

- Sebenarnya kenapa kita bisa sampai masuk dalam roda derita itu?

---------------------


Yang anicca anatta itu (adalah) kekhayalan, karena kekhayalan, ketidak-kekalan, menyebabkan dukkha.
Semua teori-teori (pengajaran) itu intinya,
karena keakuan kita. (kita berjalan dengan kekuatan aku, keberadaan diri yang sekarang kita akui sebagai 'aku'.)
tetapi guru Buddha menjelaskan bahwa 'aku' yang kita akui dan andalkan kekuatannya sebagai aku (keberadaannya/keberadaan diri) malah bersifat anicca dan anatta.
tetapi umat terbalik bukan menyadari menanggalkan keakuannya, malahan menilai ajaran guru Buddha dengan ukuran sudut pandang (kemelekatan) keakuannya.
sehingga memandang keluar, menilai kepada bahwa seolah-olah Buddha itulah yang anicca anatta. sehingga seperti berlaku ada tertulis kuman diseberang lautan kelihatan, gajah didepan mata tak kelihatan.

sehingga :
yang sederhana menjadi susah,
kewajaran menjadi rumit,
kepolosan menjadi sesuatu yang sukar dicerna,
sehingga keBuddhaan keberadaan kesejatian kehidupan diri menjadi tak terlihat karena tertutupi kesesatan khayalan diri oleh diri sendiri karena kemelekatan karena cinta kepada kewujudan ketidak-kekalan (ukuran) duniawi.

Mengapa menjadi tak terlihat?

beberapa kutipan pembicaraan dalam diskusi forum mengenai :
- Saya pernah dengar ada koan tentang guru Zen yang tidak bisa menahan kencing lagi, lalu dia menemukan ada sebuah patung Buddha. Diapun kencing di situ
Saat itu ada seorang pemuda yang melihat hal itu langsung marah dan berkata.
"Berani sekali!Mengapa kamu mengencingi Buddha? Memang tidak ada tempat lain?"
Guru itu menjawab, " Tempat lain mana yang tidak ada Buddhanya?"
pemuda itupun tercerahkan...

komentar-komentar :
- hati-hati memaknainya....

- Menganggap atribut agama sebagai sesuatu yang suci tentu baik.
Namun melekat berlebihan pada konsep kesucian,
kemudian memproduksi kekotoran batin ,
tentu layak direnungkan.
Terutama karena kesucian tidak diciptakan untuk menghasilkan kemarahan/permusuhan.
Lebih-lebih kalau konsep kesucian menghasilkan pembunuhan.
Kesucian juga mengerikan.
Kesucian ada karena ada kekotoran, tanpa kekotoran kesucian menghilang.
Totalitas dari keduanya itulah yang membebaskan.


- Guru Zen itu telah tercerahkan, dan dia tahu apa yang akan dilakukannya bermanfaat besar. Hasilnya pun memang si muda tercerahkan.
Kalau saya sih, kaga berani...

- tergantung pada niatnya...
krn tujuan yg tua adalah untuk mencerahkan yg muda hal itu sah2 saja,
sedangkan bila ada orang yg berbuat itu niat dan kehendaknya untuk menghina sang buddha maka karma buruk yg berat tak dapat terhindarkan bagi orang yg melakukannya.

- niatnya untuk kencing...
bukan untuk menghina...
jadi nggak apa2...

- thanks for all

- Cerita yang sangat indah. patut dijadikan perenungan.

- hebat guru zen
kencing aja dijadikan alasan pencerahan
saya, tak berani
takutttttttt,

- aduh, susah mencerannya.bisa diperdetil gak?

- he, he, he
ZEN, tidak ada detail
ZEN, tidak perlu dicerna
ZEN, tidak ada susahnya
ZEN, itu tidak ada
ha, ha, ha,

-------------------

cerita-cerita seperti itu polanya semua sama, seperti : guru Zen membakar patung Buddha, guru Zen menolong menyebrangi seorang wanita di sungai dsb-dsb, dst-dst.

yang sederhana menjadi susah,
kewajaran menjadi rumit,
kepolosan menjadi sesuatu yang sukar dicerna,
sehingga keBuddhaan keberadaan kesejatian kehidupan diri menjadi tak terlihat karena tertutupi kesesatan khayalan diri oleh diri sendiri karena kemelekatan karena cinta kepada kewujudan ketidak-kekalan (ukuran) duniawi.

Jumat, 06 November 2009

Pesan buat para yang merasa jadi anak - mirror-mirror on the wall

Puisi bau kentut

Seorang cendekiawan, Zhou Zi, yang telah mempelajari konsep Buddhisme dari gurunya, seorang Mahabhikshu Zen, pada suatu hari membuat suatu puisi yang menurutnya merupakan pencerminan keadaan batinnya yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam puisinya tersebut, dilukiskan bagaimana dia telah mencapai keadaan batin yang damai, kokoh, tidak terpengaruh oleh bahkan delapan mata angin sekalipun.

Sungguh bangga sekali Zhou Zi akan puisi barunya tersebut, sehingga dia berniat untuk mengirimkan kepada gurunya yang tinggal di seberang sungai, dengan harapan akan memperoleh pujian. Zhou Zi segera mengirimkan kurir untuk menyampaikan puisinya tersebut, yang diberi judul "Hati yang Tiada Tergoyahkan". Setelah gurunya menerima kiriman puisi tersebut dan membacanya, dimana oleh kurir cendekiawan dimintakan agar gurunya dapat menuliskan kesannya, maka beliau menuliskan sesuatu di balik kertas puisi tersebut dan diserahkannya kembali melalui kurir.

Zhou Zi menunggu kedatangan kurirnya untuk membaca pujian yang disampaikan oleh gurunya, dan segera dibuka sampul berisi kertas puisinya. Betapa marahnya Zhou Zi menemukan tulisan gurunya berupa tinta merah dengan tiga huruf besar, "PUISI BAU KENTUT". Sungguh geram Zhou Zi, dia menilai gurunya benar-benar tidak mengerti ungkapan yang mendalam dari dia akan konsep Buddhisme tentang keseimbangan batinnya. Zhou Zi memutuskan untuk segera ke seberang sungai menemui gurunya.

Sesampainya di tempat gurunya, Zhou Zi menanyakan dengan emosi yang ditahan, "Kenapa suhu mencela puisi saya, apakah suhu tidak bisa menangkap arti kiasan yang begitu mendalam dari puisi ini?"

Mahabhikshu Zen tersebut tertawa dan berkata; "Ha...ha....ha..., lihatlah dirimu sendiri muridku, baru terkena satu angin kentut saja, Anda sudah terbirit-birit ke sini..., apalagi kalau diterpa delapan mata angin sekaligus!" (satu angin yang dimaksud oleh Mahabhikshu Zen tersebut adalah keadaan batin yang dicela).

--------------

mirror mirror on the wall
intinya isi puisi bau kentut sang murid, menulis karena diri atau karena mengandung realitas kebenaran?,
dan tiga huruf besar tulisan "PUISI BAU KENTUT" sang guru, mencerminkan kebijaksanaan sang guru.

dalam banyak kasus, seperti anak (lengah) yang menilai-nilai orang-tuanya sendiri yang baik,
ia merasa lebih bijaksana, padahal kecenderungan hatinya lebih dikenali oleh sang orang-tua yang membesarkannya.
siapakah yang lebih bijaksana dan lebih penuh pengorbanan (kasih) saat terjatuh dan lemah, ada tangan yang selalu terbuka dengan penuh belas kasih dan pengharapan baik?
saat sesat jalan, ada penasihat yang mengenali sungguh diri kita dan terus mengasihi?
karena semangat kemudaan kita, sesungguhnya ia mengenali kecerobohan kita, tetapi kita tidak atau belum dapat melihat kebijaksanaan mereka, sehingga kita sering berontak.
ini hanya contoh dunia hubungan orang tua dan sang anak. (apalagi .....)